PALEMBANG — Diaz Faisal Malik Hendropriyono menegaskan keterlibatan perusahaan, khususnya pemegang konsesi di wilayah rawan karhutla, dibutuhkan untuk menangani kebakaran yang berulang tiap tahun. Ia menyampaikan hal itu dalam keterangan yang diterima di Palembang, Kamis.

Menurut dia, pemerintah pusat maupun daerah memiliki keterbatasan dalam menangani karhutla sendirian. Karena itu, dukungan swasta menjadi bagian penting dari strategi pengendalian.

"Kami datang ke sini bukan untuk saling menyalahkan, melainkan mencari cara untuk menyelesaikan permasalahan ini bersama-sama," ujarnya.

Mengapa Lahan Gambut Butuh Penanganan Khusus

Diaz menjelaskan penanganan karhutla tidak bisa diseragamkan karena setiap wilayah punya karakteristik berbeda. Pada lahan gambut, api dapat menjalar di bawah permukaan sehingga pemadaman tidak cukup mengandalkan operasi modifikasi cuaca atau penyiraman air dari udara.

"Untuk menangani kebakaran di lahan gambut, operasi modifikasi cuaca dan penyiraman air dari udara tidak dapat menjadi satu-satunya andalan. Api di lahan gambut harus dipadamkan, dan kondisi gambut harus terus dijaga agar tetap basah," katanya.

Salah satu upaya yang disarankan adalah menjaga kebasahan gambut lewat pembangunan sekat kanal untuk menahan air. Pemerintah dan perusahaan juga perlu mengidentifikasi sungai terdekat sebagai sumber air, lalu menyediakan titik pengambilan air dan pompa untuk mengalirkannya ke lahan gambut.

Infrastruktur Air Masih Menuai Penolakan Warga

Diaz mengakui pembangunan infrastruktur tersebut belum sepenuhnya diterima masyarakat. Sebagian warga khawatir sekat kanal menghambat pengangkutan hasil produksi dan membuat lahan terlalu basah.

"Ketika perusahaan telah berkomitmen untuk membantu, masih terdapat penolakan dari sebagian masyarakat. Mereka khawatir sekat kanal menghambat pengangkutan hasil produksi dan menyebabkan lahan menjadi terlalu basah," ujarnya.

Ia meminta pemerintah daerah hingga pemerintah desa bersama Dinas Lingkungan Hidup kabupaten/kota menjalin komunikasi dan memberi pemahaman kepada warga soal pentingnya infrastruktur pengelolaan air untuk mencegah karhutla.

"Kepala desa dan DLH kabupaten/kota diharapkan berperan ketika perusahaan telah berkomitmen untuk membantu," katanya.

APHI Klaim Sudah Jalankan Pembasahan Gambut

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia Soewarso menyatakan kesiapan pihaknya mendukung penguatan infrastruktur pencegahan karhutla. Sejumlah perusahaan anggota disebut telah melakukan pembasahan lahan gambut, antara lain memakai pompa sentrifugal untuk menaikkan air ke lahan.

"Di Sungai Mesuji, kami menggunakan sembilan pompa sentrifugal untuk menaikkan air ke lahan gambut. Upaya itu sudah kami lakukan," katanya.

Soewarso menjelaskan muka air di lahan gambut cenderung turun pada musim kemarau sehingga diperlukan tambahan pasokan air. Pelaksanaannya, kata dia, membutuhkan kerja sama, keterpaduan langkah, dan kejelasan pihak yang memimpin koordinasi.

Diaz meminta dukungan perusahaan untuk membangun infrastruktur mitigasi kebakaran lahan agar kejadian serupa tidak terulang. "Kami membutuhkan kontribusi perusahaan dalam upaya tersebut," ujarnya.

Reporter: Redaksi