NAVIGASI.CO.ID — Geely Auto memperkenalkan Geely Smart Charge, teknologi pengisian daya baterai EV dengan klaim daya puncak 2.250 kW lewat satu konektor. Klaim itu mencetak rekor industri, tetapi data pengujian CATARC pada Lynk & Co 10 hanya mencatat puncak 1.093 kW. Selisih antara klaim dan hasil uji inilah yang perlu dicermati sebelum teknologi ini masuk ke mobil produksi massal.
Geely Auto resmi memperkenalkan teknologi pengisian daya cepat bernama Geely Smart Charge. Sistem ini diklaim mampu mencapai daya puncak hingga 2.250 kW atau setara 2,25 MW melalui satu konektor pengisian.
Angka tersebut muncul di tengah persaingan teknologi pengisian cepat EV di China yang semakin ketat. Laporan CarNewsChina tertanggal 23 September 2026 menyebut Geely mengklaim kemampuan ini sebagai rekor industri baru.
Namun ada catatan penting yang jarang disorot dalam pengumuman resmi. Data pengujian dari China Automotive Technology and Research Centre (CATARC) menunjukkan angka yang jauh lebih rendah dari klaim puncak tersebut.
Klaim 2.250 kW vs Hasil Uji CATARC: Selisihnya Lebih dari Separuh
Berdasarkan data CATARC yang dikutip CarNewsChina, sebuah Lynk & Co 10 yang dilengkapi teknologi ini mencatat daya pengisian puncak sebesar 1.093 kW. Angka itu kurang dari setengah klaim 2.250 kW yang dipromosikan Geely.
Selama proses pengisian dari 10 hingga 97 persen, suhu baterai tetap berada di bawah 55 derajat Celsius selama 57 persen dari total durasi pengisian. Suhu maksimum yang tercatat mencapai 64 derajat Celsius.
Perlu dipahami bahwa angka 2.250 kW kemungkinan merujuk pada kapasitas teoretis sistem, bukan hasil pengujian di kondisi nyata. Pembaca yang membandingkan spesifikasi antar-merek sebaiknya tidak menjadikan angka puncak ini sebagai patokan tunggal.
Xingrui PowerMind: Otak di Balik Manajemen Suhu Baterai
Geely menyematkan model AI manajemen energi bernama Xingrui PowerMind untuk mengatur pengisian daya dan suhu baterai. Sistem ini punya tiga fungsi utama: Extreme Charge, Smart Charge, dan Auto Charge.
Algoritma prediksi termal di dalamnya mampu mengantisipasi fluktuasi suhu baterai 30 detik sebelumnya. Data prediksi itu dipakai untuk menyesuaikan daya pengisian secara dinamis.
Tujuannya menjaga suhu rata-rata baterai di bawah 55 derajat Celsius dan suhu puncak di bawah 65 derajat Celsius. Pada pengujian Lynk & Co 10, suhu maksimum 64 derajat Celsius masih berada di bawah ambang batas tersebut.
Yang Perlu Diperhatikan Sebelum Terlalu Antusias
- Belum ada informasi resmi soal ketersediaan Geely Smart Charge di pasar Indonesia maupun jadwal produksi massalnya
- Selisih antara klaim 2.250 kW dan hasil uji CATARC 1.093 kW belum dijelaskan secara rinci oleh Geely
- Infrastruktur pengisian daya di Indonesia saat ini masih jauh dari kapasitas 1 MW, apalagi 2,25 MW
- Belum ada data konsumsi daya riil, biaya pengisian, atau dampak jangka panjang ke umur pakai baterai
Klaim rekor industri memang menarik untuk bahan diskusi. Tapi bagi calon pembeli EV, yang lebih relevan adalah seberapa cepat pengisian di kondisi nyata dan seberapa luas jaringan pengisian yang mendukungnya.
Geely sendiri belum merinci apakah teknologi ini akan tersedia di model produksi massal atau hanya terbatas pada varian tertentu. Tanpa kejelasan itu, angka 2.250 kW masih berfungsi sebagai alat pemasaran ketimbang janji yang bisa dipegang konsumen.
Persaingan pengisian cepat EV China kini memang berlangsung agresif, dengan BYD sebagai salah satu rival utama Geely. Namun bagi pengguna di Indonesia, teknologi seperti ini baru akan terasa dampaknya kalau infrastruktur dan modelnya benar-benar hadir di sini.