PALEMBANG — Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 memperlihatkan kemajuan pada sains dan membaca, namun menyisakan persoalan serius di matematika. Skor matematika Indonesia turun dari 366 pada 2022 menjadi 364, sementara sains dan membaca masing-masing naik enam poin.
Angka itu dibaca Ketua Komunitas dan Praktisi Pendidikan, Bayumi, sebagai cermin kemampuan anak usia 15 tahun dalam memahami informasi, bernalar, dan memecahkan masalah. Menurutnya, PISA bukan sekadar kompetisi peringkat antarnegara.
Hanya 17 Persen Murid Capai Kompetensi Minimum Matematika
OECD mencatat hanya sekitar 37 persen murid Indonesia mencapai Level 2 atau lebih dalam sains, sekitar 27 persen dalam membaca, dan hanya sekitar 17 persen dalam matematika. Level 2 adalah ambang kompetensi minimum yang menunjukkan murid mulai mampu menggunakan pengetahuan untuk menghadapi situasi relatif sederhana.
Artinya, persoalan mendasar bukan semata menaikkan skor rata-rata. Yang lebih penting adalah memastikan mayoritas anak Indonesia punya kompetensi minimum untuk hidup, belajar, bekerja, dan mengambil keputusan secara rasional.
"Persoalan kita bukan semata-mata bagaimana menaikkan skor rata-rata," kata Bayumi dalam keterangan tertulisnya.
Mengapa Skor Rendah Tidak Berarti Anak Kurang Pintar
Bayumi menolak pembacaan sederhana bahwa skor rendah berarti siswa kurang belajar atau guru kurang mampu mengajar. PISA mengukur kemampuan menerapkan pengetahuan dalam konteks kehidupan nyata, bukan hafalan.
Seorang murid bisa mengetahui rumus, tetapi tidak mampu menentukan kapan rumus itu digunakan. Bisa menghafal definisi pencemaran lingkungan, tetapi belum tentu mampu menganalisis data kualitas air sungai dan menyusun argumentasi berbasis bukti.
Hal serupa terjadi pada matematika. Murid mungkin lancar menghitung persentase dalam soal rutin, tetapi kesulitan saat persentase muncul dalam konteks diskon, inflasi, transaksi digital, risiko pinjaman, atau interpretasi grafik.
Numerasi sebagai Kemampuan Bertahan Hidup
Penurunan dua poin matematika tampak kecil, tetapi menjadi serius ketika melihat tingkat kompetensi. OECD menjelaskan, pada Level 2 siswa setidaknya mampu mengenali atau merepresentasikan situasi sederhana secara matematis tanpa instruksi langsung.
Pertanyaan yang lebih penting bukan mengapa nilai matematika turun dua poin. Pertanyaan yang mendesak adalah mengapa sebagian besar anak usia 15 tahun belum mampu menggunakan matematika untuk membaca dan memecahkan persoalan sederhana dalam kehidupan.
Dunia yang mereka masuki semakin numerik: cicilan, bunga, inflasi, pajak, data statistik, grafik, algoritma, peluang, risiko investasi, transaksi digital, hingga informasi berbasis kecerdasan artifisial. Numerasi bukan lagi sekadar kemampuan akademik, melainkan kemampuan bertahan hidup di masyarakat modern.
Literasi Abad 21 Menuntut Lebih dari Sekadar Membaca
Kenaikan skor membaca menjadi 365 adalah perkembangan positif. Namun Bayumi menegaskan literasi abad ke-21 menuntut lebih dari kemampuan membaca teks.
Seorang anak harus mampu bertanya siapa yang membuat informasi, apa buktinya, apakah sumbernya dapat dipercaya, dan apakah data yang disajikan valid. Kemampuan ini krusial di tengah banjir informasi digital yang menerpa pelajar setiap hari.
PISA 2025 berlangsung saat banyak negara OECD mengalami penurunan kinerja matematika dan membaca. OECD mencatat rata-rata capaian anggotanya pada kedua bidang itu menyentuh titik terendah dalam sejarah PISA.
Namun, membandingkan diri dengan negara yang sedang turun tidak boleh membuat Indonesia kehilangan perspektif. Bayumi mengingatkan masalah mendasar pendidikan masih sangat besar dan membutuhkan perbaikan cara mengajar dan belajar, bukan sekadar perayaan angka.